Senin, 26 Desember 2011

Resensi Èclair

“Everyone thinks of changing the world, but no one thinks of changing himself.” –Leo Tolstoy


Judul : Èclair (Pagi Terakhir di Rusia)
Penulis : Prisca Primasari
Penerbit : Gagas Media
Tebal : 236 halaman (13 cm x 16 cm)
Harga : Rp 36.000,-
ISBN : 979-780-472-0

ÈCLAIR (Gagas Media, 2011) merupakan sebuah kisah persahabatan yang tak kenal akhir dan batas antara Sergei Valentinich Snegov, sang patissier yang merupakan adik lelakinya–Stepanych Valentinich Snegov, dan kakak beradik Olivier; Kay dan Lhiver.
Pagi Terakhir di Rusia…
Gadis cantik bermata biru azure, Ekaterina Fyodorovna. Katya, Krasivaya Devushka, Tsarina, Mademoiselle; begitulah nama panggilan akrab gadis yang merupakan anak dari seorang detektif terkenal di Rusia yang selalu dicari oleh kaum Rasputin. Kehidupannya yang serba sempurna–tepatnya selalu menginginkan kesempurnaan,–kehidupan mewah dan membenci kegagalan sehingga ia dijuluki nona-yang-tidak-pernah-gagal, dikelilingi oleh pilar-pilar yang menjulang tinggi di mansionnya yang megah di Rusia tidak membuat hidupnya seindah lingkungannya. Banyak hal yang harus dihadapinya untuk melawan kaum Rasputin yang terus mengejarnya–setelah kematian ayahnya–untuk mendapatkan sesuatu darinya. Namun, komitmennya yang tinggi pada ayahnya, membuatnya rela untuk mempertahankan sesuatu itu, walaupun nyawanya sebagai taruhannya.

Seorang pebisnis yang selalu dikendalikan oleh seluruh kesibukannya, bertemu oleh seorang gadis bermata biru azure pada acara duka di hari itu. Ia harus menemani ayahnya yang menghadiri kematian sahabatnya dan di saat itulah ia bertemu dengan Krasivaya Devushka. Jatuh cinta pada pandangan pertama. Sergei Valentinich Snegov, itulah namanya. Ia menyukai aliran seni apapun. Namun, tak satupun yang benar-benar ia dalami. Namun, Sergei berhasil memainkan Piano Concerto No 2 Opus 18 gubahan Sergey Rachmaninoff untuk memecahkan sebuah teka-teki demi menyelamatkan gadis yang ia temui waktu itu, Krasivaya Devushka.

Stepanych Valentinich Snegov, patissier sejati yang terkenal di seluruh dataran Eropa. Bahkan namanya dikenal sampai ke New York bahkan dunia. Èclair buatannya yang begitu terkenal, membuat namanya begitu di kenal banyak orang, sehingga banyak orang juga yang begitu mengagumi sosok Stepanych. Hanya saja, kalau kejadian itu tidak terjadi. Kalau saja ia tidak meminta Sergei membacakan puisi untuknya. Semuanya yakin, Stepanych masih bisa mencicipi èclair buatan Fuyu–murid Lhiver di Surabaya, Indonesia, yang berkebangsaan Jepang–yang begitu mengaguminya. Tidak hanya itu! Ia pasti bisa melihat kebahagiaan Sergei secara langsung. Waktu itu, ia hanya menunggu waktu, ketika ia dapat berkumpul dengan sahabat-sahabatnya sampai ia mencapai waktunya.

Kay dan Lhiver Olivier. Dua orang kakak beradik ini merupakan sahabat dari Sergei juga Stepanych. Kay adalah seorang fotografer, sedangkan Lhiver adalah seorang sastrawan. Waktu itu, Kay sempat dituduh sebagai pembunuh Tatiana Andreyva, seorang chef terkenal di New York. Namun, berkat bantuan istrinya, Claudine, dan Tsarina, ia dapat bebas dari tuduhan–lebih tepatnya, fitnah–itu. Sedangkan adiknya, Lhiver yang menetap di Surabaya mengajar sastra Inggris, meninggalkan semua kenangan pahit yang menghampirinya saat ia tinggal di Perancis dulu. Melupakan semua sahabatnya juga kakaknya. Ia hanya ingin mengasingkan dirinya, walaupun sebenarnya hati kecilnya berkata, “aku rindu mereka.” Lhiver membutuhkan waktu untuk mengubah dirinya dan sungguh-sungguh siap untuk bertemu dengan… mereka.

Semuanya berpikir untuk mengubah dunia, namun tak ada yang berpikir untuk mengubah dirinya sendiri. Ego menguasai diri mereka, dan nampaknya mereka membutuhkan sesuatu untuk mengalahkan ego itu. Dan sepiring èclair, nampaknya berhasil meluluhkan ego mereka dengan sentuhan masa lalu.

Alam, cinta, persaudaraan dan persahabatan. Itulah yang kupedulikan. Dan aku telah kehilangan dua di antaranya.

Èclair, siapa yang tak tahu kue lezat ini. Kue berlapis whipped cream yang terasa tidak terlalu manis dan topping berbagai rasa di atasnya. Waktu saya melihat novel berjudul ÈCLAIR ini, saya jadi ingat waktu saya melancong ke Malang dan disuguhi sepiring èclair yang baru matang. Aroma menteganya yang khas dan rasanya yang manis, membuat saya sempat berpikir bahwa novel ini semanis èclair yang pernah saya makan waktu itu.

Namun, ternyata tidak. Novel ÈCLAIR ini tidak semanis rasa èclair yang asli. Namun, èclair dapat menggambarkan beberapa kekhasan dari novel ini. Gaya penulisan dari Prisca Primasari ini membuat saya dapat terjun ke dalam arena cerita di dalamnya. Mudah untuk membayangkan situasi yang terjadi di dalam novel ini. Walaupun unsur budaya Rusia yang begitu kental, sang penulis tetap lihai membuat pembaca penasaran, “Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah ini? Apakah itu?”

Membaca novel ÈCLAIR ini seperti membaca novel-novel klasik terjemahan, dengan bahasa yang lebih ringan. Bagi penggemar literatur Eropa–seperti saya sendiri,–novel ÈCLAIR sangat pas. Di dalamnya, pembaca disuguhi dengan beberapa literatur Inggris, dan beberapa negara di Eropa. Selain itu, beberapa judul musik klasik terkenal juga sempat disebutkan dalam novel ini, menambah kesan klasik yang lebih jauh lagi.

Ada beberapa bagian yang saya suka dari novel ini. Satu, gaya bahasa yang ringan tapi berbobot. Membuat semua yang ada di dalam novel ini menjadi suatu kenyataan yang benar-benar terjadi. Dan yang saya tahu, menggabungkan antara fakta dan fiksi tidaklah mudah. Dua, alur cerita yang membuat pembaca bisa menengok ke masa lalu dan membuat sebuah layar tancap mini di atas kepala. Tiga, kisahnya yang tragis dan menegangkan dipadukan dengan sebuah cerita semanis èclair.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

♥ 아이코 ♥ Nessie Anatasha ♥ 愛子 ♥ | Designed by www.rindastemplates.com | Layout by Digi Scrap Kits | Author by ♥ Nessie Anatasha ♥